BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh tentang hakikat kebenaran sesuatu. Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu Philos dan Sophia yang berarti cinta kebijaksanaan atau belajar.
Salah satu pelopor dan gembong filsafat barat adalah Plato seorang murid dari ilmuan dan Filosof yang terkemuka yaitu Socrates dan mencetuskan seorang ilmuan serta Filosof yang terkenal bahkan diakui keilmuannya.
Plato adalah seorang pemikir yang lebih sistematis dibandingkan Socrates. Namun karya-karya yang dituangkannya, khususnya dialog-dialognya dimasa dini dapat dikatakan merupakan penerusan dan penggarapan terhadap pemikiran-pemikiran Socrates.
Pemikiran-pemikiran Plato seperti halnya sang guru yang dikagumi olehnya karena memiliki budi pekerti yang luhur menjadikan para kaum Sofis geram dan dendam terhadap ajaran Socrates sehingga menyebabkan ancaman kepada penerus ajaran Socrates khususnya Plato. Oleh karena itu Plato mengembara ke berbagai negara.
Rumusan Masalah
1. Siapakah Ilmuan Yunani yang bernama Plato ?
2. Seperti apa pemikiran Plato sebagai pelopor idealism ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. RIWAYAT HIDUP PLATO
Plato dilahirkan sekitar tahun 427 SM. Dia hidup antara kira-kira 428-347 SM. Plato lahir di Athena dari kalangan keluarga aristocrat. Ayahnya yaitu Arsito dikenal sebagai keturunan raja-raja Atena. Perictone, ibunya masih ada hubungan keluarga dengan Solon, seorang ahli hukum dari abad ke-enam sebelum masehi. Ketika Plato masih kecil, bapaknya meninggal dunia, dan ibunya menikah dengan Pirilampes, seorang yang ada hubungan dekat dengan Perikles. Berbeda dengan Sokrates yang dilahirkan dari keluarga pemahat, Plato termasuk di antara keluarga yang ada hubungannya dengan “Tiga Puluh Tiran” yang berkuasa di Atena.
Di masa remaja dia berkenalan dengan filosof terkenal yaitu Socrates yang jadi guru sekaligus sahabatnya, penyebabnya adalah Plato yang mempunyai ambisi Politik menjadikan ketidakpuasan terhadap pimpinan politik Atena. Setelah Plato mengenal Sokrates, dia pun menjadi murid Sokrates yang menyetujui garis dasar pemikiran-pemikiran filsafat Sokrates dan gaya dialektisnya dalam perdebatan, yaitu dalam mengejar kebenaran melalui tanya-jawab dan melalui tambahan pernyataan-pernyataan.
Plato menyaksikan langsung kematian Sokrates yang meminum racun. Rupa-rupanya karena untuk keselamatan dirinya, Plato untuk sementara meninggalkan Atena dan mengembara ke berbagai Negara yaitu Italia, Sisilia, Mesir dan negara lainnya selama 10-12 tahun lamanya.
Pada tahun 387 SM, Plato mendirikan Akademi di Atena. Suatu institut yang bisa dianggap sebagai universitas pertama di Eropa yang berjalan lebih dari 900 tahun. Akademi itu dilengkapi dengan perangkat pelajaran dan kurikulum yang komprehensif, yang merangkumi subjek-subjek seperti astronomi, biologi, matematika, teori politik, dan filsafat. Diantara siswanya yang paling terkemuka adalah Aristoteles.
Pada masa tuanya, antara tahun-tahun 367 dan 361/362 SM, Plato berada Sisilia. Disana dia mengajar Dionisius II, yang terkenal sebagai raja tirani muda. Dia memiliki harapan untuk merealisasikan gagasan tentang Negara Ideal-nya disana. Namun harapannya ternyata tidak terwujud. Akhirnya Plato meninggal dunia di Atena pada usia kira-kira 81 tahun.
Kepengarangan Plato yang dimulai disekitar tahun 380 SM berlangsung hingga tiba ajalnya. Seluruh tulisan Plato yang dipublikasikan tersimpan. Plato menulis tak kurang dari 36 buku. Tulisan-tulisan Plato dapat dibagi kedalam 3 kelompok yaitu:
1. Tulisan-tulisan di masa muda
a. Protagoras : suatu pembelaan terhadap tesis bahwa kebaikan adalah pengetahuan dan dapat dipikirkan.
b. Apologi : pembelaan kepada Sokrates terhadap tuduhan ateisme dan perusakan moral pemuda Atena.
c. Eutifro : masalah sifat kesucian.
d. Negara/Republik: sebuah diskusi tentang keadilan.
2. Tulisan-tulisan sesudah setengah tua
a. Gorgias : persoalan mengenai beberapa masalah etika.
b. Meno : diskusi tentang sifat pengetahuan.
c. Faedo : panorama kematian Sokrates, diskusi tentang teori mengenai masalah bentuk, sifat nyawa, dan masalah ketidakmatian.
d. Simposium : berisi berbagai uraian Plato tentang keindahan dan tentang cinta.
e. Politeia : bukunya tentang Negara.
3. Pada hari tua
a. Teaitetus : suatu penolakan bahwa pengetahuan itu identis dengan citarasa.
b. Parmenides : penilaian kritis terhadap teori bentuk.
c. Kaum Sofis : kelanjutan diskusi teori tentang idea atau bentuk.
d. Timaius : pendapat Plato tentang ilmu pengetahuan alam dan tentang kosmologi.
e. Nomoi : hukum yang berisi analisis praktis tentang masalah-masalah politik dan sosial. (Arus Filsafat:2008:50-51)
dan karya-karya yang lainya. Ajaran-ajaran yang terpenting dari pemikiran Plato adalah tentang Negara Ideal, teorinya tentang ide dan bentuk, tentang ketidakmatian, dan teori tentang pengetahuan.
B. PEMIKIRAN PLATO
1. Plato Tentang Utopi
Pada masa Plato, keadaan Atena lebih kurang mirip seperti Inggris pada tahun 1800-an. Di kedua negeri itu ada aristokrasi yang ekonomis berkemampuan cukup dan terpandang. Plato membahas tentang masalah keadilan dan maka mempermasalahkan “apa yang dimaksudkan dengan Negara sejati“ dan “apa itu manusia” dalam karya terbesarnya tentang republik.
Menurut Plato, negara ideal merangkumi dan tersusun oleh tiga kelas. Struktur ekonomi negara harus dikelola oleh kelas kaum pedagang, keamanan yang memang diperlukan harus ditangani oleh kelas militer, dan kepemimpinan politik harus dipegang oleh raja-raja filsafat dengan sistem pendidikan yang ideal ala Plato, yang pertama-tama dibina adalah melahirkan raja-raja filsafat.
2. Plato Tentang Etika
Teori Plato tentang etika terletak pada asumsi bahwa kebaikan adalah pengetahuan yang dapat dipikirkan yang bisa dimengerti sesuai dengan teorinya yaitu bentuk. Bentuk utama bagi Plato adalah bentuk kebaikan. Tahu tentang kebaikan adalah perbuatan yang baik. Dan menurut Plato, orang yang bermoral adalah orang yang benar-benar bahagia.
Plato pun memperhatikan moral generasi muda bahkan sejak dilahirkan dan dibesarkan oleh ibunya. Plato melarang para ibu menceritakan karya Homerus dan Hesiodus yang didalamnya menceritakan dan menggambarkan dewa-dewa (Tuhan), karena Plato menganggap bahwa menceritakan kejelekan dewa merupakan perilaku yang amoral. Orang-orang muda harus belajar, bahwa sesuatu yang jelek tidak berasal dari dewa-dewa, karena Tuhan hanya memberikan restu kepada kebaikan agar para pemuda semangat berjuang dan berani mengorbankan jiwanya.
Menurut Plato hak milik pribadi tidak ada. Istri dan anak milik bersama, wanita-wanita tanpa terkecuali dan tidak ada orang yang memilik istri untuk dirinya sendiri. Anak sejak lahir diambil oleh Negara. Maka baik anak maupun orang tuanya tidak saling mengenal. Maka para pemuda dilarang menyakiti orang yang lebih tua karena mungkin itu adalah orang tuanya.
3. Ajaran Plato tentang Ketidakmatian
Yang dimaksudkan plato tentang ketidakmatian adalah sifat langgeng nyawa. Sesudah nyawa meninggalkan badan, nyawa tidak akan mengenal kematian lagi. Kematian berarti terpisahnya nyawa dari nyawa. Menurut Plato hal ini menguak teori dualismen, yaitu ketidaksatuan antara kenyataan dan gambaran semu, antara dunia ide dan dunia materi, antara nalar dan citarasa, antara nyawa dan badan.
Manusia dapat dibandingkan –demikian katanya— dengan orang-orang tahanan yang sejak lahirnya terkurung dan terbelenggu di dalam gua. Di belakang mereka ada api menyala sementara mereka hanya dapat menghadap ke dinding gua. Beberapa orang budak belian berjalan-jalan di depan api itu sambil memikul bermacam-macam benda. Hal itu mengakibatkan bermacam-macam bayangan yang jatuh pada dinding gua. Karena orang-orang tahanan itu tidak dapat melihat ke belakang, mereka hanya menyaksikan bayangan, dan bayangan itu disangka mereka sebagai realitas yang sebenarnya dan tidak ada lagi realitas yang lain. Namun, setelah beberapa waktu seorang tahanan dilepaskan, ia melihat di belakang mereka, yaitu di mulut gua, ada api yang menyala. Ia mulai memperkirakan bahwa bayangan-bayangan yang disaksikan mereka tadi bukanlah realitas yang sebenarnya. Lalu ia diantar ke luar gua, dan ia melihat matahari yang menyilaukan matanya. Mula-mula ia berpikir bahwa ia sudah meninggalkan realitas. Akan tetapi berangsur-angsur ia pun menginsafi bahwa justru itulah realitas yang sebenarnya, dan ia menyadari bahwa dulu ia belum pernah menyaksikannya lalu ia kembali ke dalam gua, ya, ke tempat kawan-kawannya yang masih diikat di situ. Lalu bercerita kepada teman-temannya bahwa yang dilihat mereka pada dinding gua itu bukanlah realitas yang sebenarnya, melainkan hanyalah bayangan. Namun kawan-kawannya itu tidak mempercayai perkataannya, dan seandainya mereka tidak terbelenggu mereka pasti akan membunuh siapa saja yang mencoba melepaskan mereka dari belenggunya. Kalimat terakhir ini mengiaskan kematian Socrates.
Mitos ini menjelaskan bahwa gua adalah dunia yang dapat ditangkap oleh indera penglihatan manusia secara langsung. Kebanyakan orang dapat diumpamakan sebagai orang yang terbelenggu dalam tahanan yang hanya mampu melihat bayangan yang memantul dari api. Mereka menerima pengalaman spontan begitu saja. Namun, ada beberapa orang yang mampu dan mulai memperkirakan bahwa realitas penglihatan inderawi hanyalah bayangan mereka yaitu para filosof. Hal ini diawali karena rasa takjub terhadap yang ada di dunia hingga berangsur-angsur menemukan idea “hal yang baik” (matahari) sebagai realitas tertinggi. Untuk mencapai kebenaran yang sebenarnya manusia harus mampu melepaskan diri dan melawan kesakitan dari pengaruh indera yang menyesatkan.
Dengan demikian, jelas bahwa kebenaran umum itu ada, bukan dibuat-buat dan sudah ada di alam idea. Plato memperkuat argumentasi Socrates dalam menghadapi kaum Sofis dan menurut Plato selain kebenaran umum ada pula kebenaran yang khusus, yaitu konkretisasi idea di alam ini. “Kucing” itu adalah alam idea yang umum (kebenaran umum) sedangkan “kucing hitam di rumah saya” adalah kucing yang khusus artinya ini kebenaran (idea) khusus.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Pengaruh Plato di dalam sejarah filsafat tidak kecil khususnya di Yunani, dan pemikiran Plato lebih menjadi penerus pemikiran Socrates melalui system dialektika kepada orang-orang lain. Namun karya-karya Plato banyak yang ditulis dan diabadikan sehingga ajarannya tidak lenyap begitu saja. Karena Plato memiliki akademi atau sekolah yang berjalan terus sampai pada tahun 529 SM.
Dampak pemikiran Platonisme selanjutnya ada peran yang berarti terhadap perkembangan theologi Katolik. Theologi Islam dampaknya sangat berpengaruh pada abad pertengahan. Usaha menghidupkan kembali Platonisme ada terus menerus hingga masa sekarang, namun tidak bergema luas.
DAFTAR PUSTAKA
Soegiri DS,2008,Arus Filsafat,Bandung:Ultimus
Tafsir Ahmad,2004,Filsafat Umum,Bandung:PT Remaja Rosedakarya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar