Jumat, 29 Juni 2012

Tujuan Pendidikan Islam


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Ilmu pendidikan Islam adalah ilmu yang membahas berbagai teori, konsep, dan desain tentang berbagai aspek pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam sebagaimana terdapat di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Ilmu pendidikan Islam dapat menerima berbagai pengaruh dari luar sehingga mengalami perkembangan dan kemajuan, sepanjang pengaruh tersebut tetap sejalan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam.
Setiap pendidikan memiliki tujuan yang harus dicapai, baik itu bagi pendidik maupun anak didik. Begitu pun halnya pada pendidikan agama Islam mempunyai suatu tujuan yakni agar anak didik atau murid terarah dan mencapai suatu manfaat bagi pribadinya maupun untuk orang lain. Karena sesuatu hal yang tidak memiliki tujuan akan menghasilkan kesia-siaan.
Kita sebagai pemeran (aktor) dalam pendidikan Islam harus mengetahui tujuan pendidikan Islam. Maka dari itu kami mengambil pembahasan yang berkenaan dengan hal tersebut. Judul makalah ini adalah “Tujuan Pendidikan Islam”.

B.       Rumusan Masalah
1.        Apa tujuan umum pendidikan Islam?
2.        Apa tujuan khusus pendidikan Islam?


BAB II
PEMBAHASAN

Tujuan adalah arah suatu perbuatan atau yang hendak dicapai melalui upaya atau aktifitas. Menurut Zakiah Darajat tujuan adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai.
Tujuan pendidikan Islam ialah kepribadian muslim, yaitu suatu kepribadian yang seluruh aspeknya dijiwai oleh ajaran Islam. Orang yang berkepribadian muslim dalam Al-Quran disebut “muttaqin”. Karena itu pendidikan Islam berarti juga pembentukan manusia yang bertakwa. Ini sesuai benar dengan pendidikan nasional kita yang dituangkan dalam tujuan pendidikan nasional yang akan membentuk manusia Pancasialis yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

A.      Tujuan Pendidikan Islam (Umum)
Tujuan umum itu dapat dijabarkan kepada tiga aspek, yaitu :
1.        Menyempurnakan manusia dengan Kholiknya (hablu min Allah). Semakin dekat dan terpelihara hubungan dengan Kholik akan semakin tumbuh dan berkembang keimanan seseorang hingga mencapai kesadaran akan penerimaan ketaatan dan ketundukan kepada segala perintah dan larangannya.
2.        Menyempurnakan hubungan manusia dengan sesamanya (hablu min an-naas). Memelihara, memperbaiki dan meningkatkan hubungan antara manusia dan lingkungan merupakan upaya manusia agar terjadi interaksi antar  sesama manusia baik dengan muslim maupun agama lainnya. Sehingga tampak betapa citra Islam dalam masyarakat yang ditunjukkan oleh tingkah laku para pemeluknya.
3.        Mewujudkan keseimbangan, keselarasan dan keserasian antara kedua hubungan yang dua itu dan mengaktifkan kedua-duanya sejalan secara serasi, seimbang dan selaras dalam bentuk tindakan.
Al-Attas (1979:1) menghendaki tujuan pendidikan Islam adalah manusia yang baik.  Ini terlalu umum. Marimba (1964:39) berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya orang yang berkepribadian muslim. Ini pun amat umum; ia memang menyebutnya sebagai tujuan akhir. Al-Abrasyi (1974:15) menghendaki tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia yang berakhlak mulia. Ini juga amat umum. Munir Mursyi (1977:18) menyatakan bahwa tujuan akhir pendidikan menurut Islam adalah manusia sempurna. Ini pun terlalu umum, sulit dioperasikan; maksudnya, sulit dioperasikan dalam tindakan perencanaan dan pelaksanaan pendidikan secara nyata.
Muhammad Quthb (1988:17), tatkala membicarakan tujuan pendidikan, menyatakan bahwa tujuan pendidikan lebih penting dari pada sarana pendidikan. Sarana pendidikan pasti berubah dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, bahkan dari satu tempat ke tempat yang lain. Akan tetapi, tujuan pendidikan tidak berubah. Yang dimaksud ialah tujuan pendidikan yang umum itu.
Menurut Quthb (1988:21), tujuan umun pendidikan adalah manusia yang taqwa. Itulah manusia yang baik menurutnya. Itu diambilnya dari Al-Quran surat Al-Hujurat ayat 13  yang artinya: “Sungguh yang paling mulia di antara kalian menurut pandangan Allah ialah yang paling tinggi tingkat ketakwaannya.”
Konferensi Dunia Pertama tentang Pendidikan Islam (1977) berkesimpulan bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia yang menyerahkan diri secara mutlak kepada Allah (Ashraf, 1989:2).
Dari sini dapat dilihat bahwa para ahli pendidikan Islam sepakat bahwa tujuan umum (sebagian menyebutnya tujuan akhir) pendidikan Islam ialah manusia yang baik itu ialah manusia yang beribadah kepada Allah; Quthb menghendaki manusia yang baik itu ialah manusia yang takwa kepada Allah. Ungkapan-ungkapan itu sesungguhnya berbeda dari segi redaksi; esensi yang dikandungnya sama.
Al-Aynayi (1980:153-217) membagi tujuan pendidikan Islam menjadi tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum ialah beribadah kepada Allah, maksudnya membentuk manusia yang beribadah kepada Allah. Selanjutnya ia mengatakan bahwa tujuan umum ini sifatnya tetap, berlaku di segala tempat, waktu, dan tujuan.
      
B.       Tujuan Pendidikan Islam (Khusus)
Tujuan pendidikan yang khusus dapat berubah sesuai dengan kondisi tertentu. Namun bagian yang mendasar dalam tujuan pendidikan yang khusus tidak pernah berubah.
Menurut Abdul Fattah Jalal (1988:119), tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Ia mengatakan bahwa tujuan ini akan mewujudkan tujuan-tujuan khusus. Dengan mengutip surat Al-Takwir ayat 27, Jalal menyatakan bahwa tujuan itu adalah untuk semua manusia. Jadi, menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia (sekali lagi: seluruh manusia). Manusia yang menghambakan diri kepada Allah. Yang dimaksud dengan menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah.
Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah. Tujuan hidup manusia itu menurut Allah ialah beribadah kepada Allah. Ini diketahui dari ayat 56 surat Al-Dzariyat: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” Ayat Al-Quran yang senada dengan ayat di atas dapat juga dilihat umpamanya pada surat Al-Baqarah ayat 21, Al-Anbiya ayat 25, dan An-Nahl ayat 36. Jalal (1988:123-124) menyatakan bahwa sebagian orang mengira ibadah itu terbatas pada menunaikan shalat, shaum pada bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat, ibadah haji dan mengucap syahadat. Di luar itu bukan ibadah. Sebenarnya ibadah itu mencakup semua amal, fikiran, perasaan yang diharapkan (disandarkan) kepada Allah. Ibadah adalah jalan hidup yang mencakup seluruh aspek kehidupan serta segala yang dilakukan manusia berupa perkataan, perbuatan, perasaan, pemikiran yang disangkutkan dengan Allah. Dalam kerangka inilah maka tujuan pendidikan haruslah mempersiapkan manusia untuk beribadah seperti itu, agar ia menjadi hamba Allah (ibad Al-Rahman). Dengan melihat tujuan umum seperti ini dapatlah dibuat rumusan tujuan pendidikan yang lebih khusus, yaitu dengan mempelajari lebih dahulu apa saja aspek ibadah tersebut.
Aspek ibadah yang pertama ialah apa yang oleh fuqaha disebut ibadat, yaitu rukun Islam yang disebut di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari maupun oleh Muslim, yang berisi rukun Islam yang lima itu. Aspek ibadah yang ini merupakan kewajiban orang Islam untuk mempelajarinya agar ia dapat mengamalkannya dengan cara yang benar.
Aspek ibadah yang kedua ialah aspek amal untuk mencari rezeki. Allah berfirman: “Dan menjadikan bumi ini mudah bagimu, maka berjalanlah ke segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya dan hanya kepada-Nya lah kalian kembali.” (Al-Mulk:15). Perintah rezeki itu mengandung perintah agar mempelajari cara mencari rezeki tersebut. Oleh karena itu, perlu diajarkan teori-teori filsafat, sains, dan teknik-tekniknya. Setiap macam ibadah itu dapat menghasilkan sekurang-kurangnya satu tujuan khusus pendidikan. Diantara ibadah tersebut ialah berbuat baik kepada orang tua, menafkahkan harta dijalan Allah, berbuat baik kepada kerabat, menafkahkan harta, tidak kikir, dan tidak berlebihan, jujur dalam menimbang, tidak mencampuri urusan orang lain, rendah hati, adil, menjauhi perbuatan keji dan munkar, tidak dzalim, dan tidak bermusuhan, menepati janji dan sumpah, dan mengenakan perhiasan yang halal.
Menurut Al Syaibani, tujuan pendidikan Islam adalah :
1.        Tujuan yang berkaitan dengan individu, mencakup perubahan yang berupa pengetahuan, tingkah laku masyarakat, tingkah laku jasmani dan rohani dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki untuk hidup di dunia dan di akhirat.
2.        Tujuan yang berkaitan dengan masyarakat, mencakup tingkah laku masyarakat, tingkah laku individu dalam masyarakat, perubahan kehidupan masyarakat, memperkaya pengalaman masyarakat.
3.        Tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai kegiatan masyarakat.
Menurut Al Abrasyi, merinci tujuan akhir pendidikan Islam menjadi :
1.        Pembinaan akhlak.
2.        Menyiapkan anak didik untuk hidup dunia dan akhirat.
3.        Penguasaan ilmu.
4.        Keterampilan bekerja dalam masyarakat.
Menurut Asma Hasan Fahmi, tujuan akhir pendidikan Islam dapat diperinci menjadi :
1.        Tujuan keagamaan.
2.        Tujuan pengembangan akal dan akhlak.
3.        Tujuan pengajaran kebudayaan.
4.        Tujuan pembicaraan kepribadian.
Menurut Munir Mursi, tujuan pendidikan Islam menjadi :
1.        Bahagia di dunia dan akhirat.
2.        Menghambakan diri kepada Allah.
3.        Memperkuat ikatan keislaman dan melayani kepentingan masyarakat Islam.
4.        Akhlak mulia.
Al-Aynayni (1980:153-217) menyatakan bahwa tujuan khusus pendidikan Islam ditetapkan berdasarkan keadaan tempat dengan mempertimbangkan keadaan geografi, ekonomi dan lain-lain yang berada di tempat itu. Tujuan khusus ini dapat dikhususkan para ahli di tempat itu. Selanjutnya ia membagi aspek-aspek pembinaan dalam pendidikan Islam, jadi bukan pembagian tujuan pendidikan menjadi tujuan-tujuan khusus.  Aspek–aspek pembinaan dalam pendidikan Islam menurutnya ialah sebagai berikut :
1.        Aspek Jasmani
2.        Aspek Akal
3.        Aspek Aqidah
4.        Aspek Akhlak
5.        Aspek Kejiwaan
6.        Aspek Keindahan
7.        Aspek Kebudayaan
Pembagian ini bertujuan baik, sayangnya kategori yang digunakan ganda juga. Aspek (1), (2), dan (5) berada di dalam kategori potensi manusia, sementara aspek (3) dan (4) berkategori sifat atau sikap, sedangkan aspek (6) dan (7) kelihatannya tumpang tindih (bukan kah keindahan termasuk bagian dari kebudayaan?).
Sampai disini kita sebenarnya belum puas tentang perumusan tujuan khusus pendidikan Islam itu. Pendapat para pakar itu kelihatannya tidak banyak menolong kita untuk merumuskan tujuan-tujuan pendidikan kita di tempat kita. Kita menginginkan rumusan tujuan pendidikan yang khusus, tidak tumpang tindih, dan menggunakan satu kategori yang tegas. Kriteria ini amat penting. Kriteria itulah kelak yang akan mengarahkan kurikulum pendidikan kita. Bila tumpang tindih dan atau kategorinya ganda, maka perencanaan pendidikan akan amat sulit, kebingungan akan muncul dalam pelaksanaannya. Mungkin kita dapat memperoleh acuan dalam membuat rumusan tujuan pendidikan yang demikian?
Tatkala membicarakan ciri muslim sempurna kita telah sampai pada kesimpulan bahwa muslim sempurna menurut Islam ialah muslim yang :
1.        Jasmaninya sehat serta kuat,
2.        Akalnya cerdas serta pandai,
3.        Hatinya takwa kepada Allah.
 
BAB III
PENUTUP

A.      KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas, maka dapat penulis simpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam pada intinya adalah: terwujudnya manusia sebagai hamba Allah swt. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah swt. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah swt.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Tafsir, 2001, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Dr.Zakiah Daradjat, dkk., 2001, Metodologi Pengajaran Islam, Jakarta: Bumi Aksara
M. Arifin, 1996, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara
Ramayulis, 2011, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia