Jumat, 29 Juni 2012

Tujuan Pendidikan Islam


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Ilmu pendidikan Islam adalah ilmu yang membahas berbagai teori, konsep, dan desain tentang berbagai aspek pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam sebagaimana terdapat di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Ilmu pendidikan Islam dapat menerima berbagai pengaruh dari luar sehingga mengalami perkembangan dan kemajuan, sepanjang pengaruh tersebut tetap sejalan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam.
Setiap pendidikan memiliki tujuan yang harus dicapai, baik itu bagi pendidik maupun anak didik. Begitu pun halnya pada pendidikan agama Islam mempunyai suatu tujuan yakni agar anak didik atau murid terarah dan mencapai suatu manfaat bagi pribadinya maupun untuk orang lain. Karena sesuatu hal yang tidak memiliki tujuan akan menghasilkan kesia-siaan.
Kita sebagai pemeran (aktor) dalam pendidikan Islam harus mengetahui tujuan pendidikan Islam. Maka dari itu kami mengambil pembahasan yang berkenaan dengan hal tersebut. Judul makalah ini adalah “Tujuan Pendidikan Islam”.

B.       Rumusan Masalah
1.        Apa tujuan umum pendidikan Islam?
2.        Apa tujuan khusus pendidikan Islam?


BAB II
PEMBAHASAN

Tujuan adalah arah suatu perbuatan atau yang hendak dicapai melalui upaya atau aktifitas. Menurut Zakiah Darajat tujuan adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai.
Tujuan pendidikan Islam ialah kepribadian muslim, yaitu suatu kepribadian yang seluruh aspeknya dijiwai oleh ajaran Islam. Orang yang berkepribadian muslim dalam Al-Quran disebut “muttaqin”. Karena itu pendidikan Islam berarti juga pembentukan manusia yang bertakwa. Ini sesuai benar dengan pendidikan nasional kita yang dituangkan dalam tujuan pendidikan nasional yang akan membentuk manusia Pancasialis yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

A.      Tujuan Pendidikan Islam (Umum)
Tujuan umum itu dapat dijabarkan kepada tiga aspek, yaitu :
1.        Menyempurnakan manusia dengan Kholiknya (hablu min Allah). Semakin dekat dan terpelihara hubungan dengan Kholik akan semakin tumbuh dan berkembang keimanan seseorang hingga mencapai kesadaran akan penerimaan ketaatan dan ketundukan kepada segala perintah dan larangannya.
2.        Menyempurnakan hubungan manusia dengan sesamanya (hablu min an-naas). Memelihara, memperbaiki dan meningkatkan hubungan antara manusia dan lingkungan merupakan upaya manusia agar terjadi interaksi antar  sesama manusia baik dengan muslim maupun agama lainnya. Sehingga tampak betapa citra Islam dalam masyarakat yang ditunjukkan oleh tingkah laku para pemeluknya.
3.        Mewujudkan keseimbangan, keselarasan dan keserasian antara kedua hubungan yang dua itu dan mengaktifkan kedua-duanya sejalan secara serasi, seimbang dan selaras dalam bentuk tindakan.
Al-Attas (1979:1) menghendaki tujuan pendidikan Islam adalah manusia yang baik.  Ini terlalu umum. Marimba (1964:39) berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya orang yang berkepribadian muslim. Ini pun amat umum; ia memang menyebutnya sebagai tujuan akhir. Al-Abrasyi (1974:15) menghendaki tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia yang berakhlak mulia. Ini juga amat umum. Munir Mursyi (1977:18) menyatakan bahwa tujuan akhir pendidikan menurut Islam adalah manusia sempurna. Ini pun terlalu umum, sulit dioperasikan; maksudnya, sulit dioperasikan dalam tindakan perencanaan dan pelaksanaan pendidikan secara nyata.
Muhammad Quthb (1988:17), tatkala membicarakan tujuan pendidikan, menyatakan bahwa tujuan pendidikan lebih penting dari pada sarana pendidikan. Sarana pendidikan pasti berubah dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, bahkan dari satu tempat ke tempat yang lain. Akan tetapi, tujuan pendidikan tidak berubah. Yang dimaksud ialah tujuan pendidikan yang umum itu.
Menurut Quthb (1988:21), tujuan umun pendidikan adalah manusia yang taqwa. Itulah manusia yang baik menurutnya. Itu diambilnya dari Al-Quran surat Al-Hujurat ayat 13  yang artinya: “Sungguh yang paling mulia di antara kalian menurut pandangan Allah ialah yang paling tinggi tingkat ketakwaannya.”
Konferensi Dunia Pertama tentang Pendidikan Islam (1977) berkesimpulan bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia yang menyerahkan diri secara mutlak kepada Allah (Ashraf, 1989:2).
Dari sini dapat dilihat bahwa para ahli pendidikan Islam sepakat bahwa tujuan umum (sebagian menyebutnya tujuan akhir) pendidikan Islam ialah manusia yang baik itu ialah manusia yang beribadah kepada Allah; Quthb menghendaki manusia yang baik itu ialah manusia yang takwa kepada Allah. Ungkapan-ungkapan itu sesungguhnya berbeda dari segi redaksi; esensi yang dikandungnya sama.
Al-Aynayi (1980:153-217) membagi tujuan pendidikan Islam menjadi tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum ialah beribadah kepada Allah, maksudnya membentuk manusia yang beribadah kepada Allah. Selanjutnya ia mengatakan bahwa tujuan umum ini sifatnya tetap, berlaku di segala tempat, waktu, dan tujuan.
      
B.       Tujuan Pendidikan Islam (Khusus)
Tujuan pendidikan yang khusus dapat berubah sesuai dengan kondisi tertentu. Namun bagian yang mendasar dalam tujuan pendidikan yang khusus tidak pernah berubah.
Menurut Abdul Fattah Jalal (1988:119), tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Ia mengatakan bahwa tujuan ini akan mewujudkan tujuan-tujuan khusus. Dengan mengutip surat Al-Takwir ayat 27, Jalal menyatakan bahwa tujuan itu adalah untuk semua manusia. Jadi, menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia (sekali lagi: seluruh manusia). Manusia yang menghambakan diri kepada Allah. Yang dimaksud dengan menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah.
Islam menghendaki agar manusia dididik supaya ia mampu merealisasikan tujuan hidupnya sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah. Tujuan hidup manusia itu menurut Allah ialah beribadah kepada Allah. Ini diketahui dari ayat 56 surat Al-Dzariyat: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” Ayat Al-Quran yang senada dengan ayat di atas dapat juga dilihat umpamanya pada surat Al-Baqarah ayat 21, Al-Anbiya ayat 25, dan An-Nahl ayat 36. Jalal (1988:123-124) menyatakan bahwa sebagian orang mengira ibadah itu terbatas pada menunaikan shalat, shaum pada bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat, ibadah haji dan mengucap syahadat. Di luar itu bukan ibadah. Sebenarnya ibadah itu mencakup semua amal, fikiran, perasaan yang diharapkan (disandarkan) kepada Allah. Ibadah adalah jalan hidup yang mencakup seluruh aspek kehidupan serta segala yang dilakukan manusia berupa perkataan, perbuatan, perasaan, pemikiran yang disangkutkan dengan Allah. Dalam kerangka inilah maka tujuan pendidikan haruslah mempersiapkan manusia untuk beribadah seperti itu, agar ia menjadi hamba Allah (ibad Al-Rahman). Dengan melihat tujuan umum seperti ini dapatlah dibuat rumusan tujuan pendidikan yang lebih khusus, yaitu dengan mempelajari lebih dahulu apa saja aspek ibadah tersebut.
Aspek ibadah yang pertama ialah apa yang oleh fuqaha disebut ibadat, yaitu rukun Islam yang disebut di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari maupun oleh Muslim, yang berisi rukun Islam yang lima itu. Aspek ibadah yang ini merupakan kewajiban orang Islam untuk mempelajarinya agar ia dapat mengamalkannya dengan cara yang benar.
Aspek ibadah yang kedua ialah aspek amal untuk mencari rezeki. Allah berfirman: “Dan menjadikan bumi ini mudah bagimu, maka berjalanlah ke segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya dan hanya kepada-Nya lah kalian kembali.” (Al-Mulk:15). Perintah rezeki itu mengandung perintah agar mempelajari cara mencari rezeki tersebut. Oleh karena itu, perlu diajarkan teori-teori filsafat, sains, dan teknik-tekniknya. Setiap macam ibadah itu dapat menghasilkan sekurang-kurangnya satu tujuan khusus pendidikan. Diantara ibadah tersebut ialah berbuat baik kepada orang tua, menafkahkan harta dijalan Allah, berbuat baik kepada kerabat, menafkahkan harta, tidak kikir, dan tidak berlebihan, jujur dalam menimbang, tidak mencampuri urusan orang lain, rendah hati, adil, menjauhi perbuatan keji dan munkar, tidak dzalim, dan tidak bermusuhan, menepati janji dan sumpah, dan mengenakan perhiasan yang halal.
Menurut Al Syaibani, tujuan pendidikan Islam adalah :
1.        Tujuan yang berkaitan dengan individu, mencakup perubahan yang berupa pengetahuan, tingkah laku masyarakat, tingkah laku jasmani dan rohani dan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki untuk hidup di dunia dan di akhirat.
2.        Tujuan yang berkaitan dengan masyarakat, mencakup tingkah laku masyarakat, tingkah laku individu dalam masyarakat, perubahan kehidupan masyarakat, memperkaya pengalaman masyarakat.
3.        Tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai kegiatan masyarakat.
Menurut Al Abrasyi, merinci tujuan akhir pendidikan Islam menjadi :
1.        Pembinaan akhlak.
2.        Menyiapkan anak didik untuk hidup dunia dan akhirat.
3.        Penguasaan ilmu.
4.        Keterampilan bekerja dalam masyarakat.
Menurut Asma Hasan Fahmi, tujuan akhir pendidikan Islam dapat diperinci menjadi :
1.        Tujuan keagamaan.
2.        Tujuan pengembangan akal dan akhlak.
3.        Tujuan pengajaran kebudayaan.
4.        Tujuan pembicaraan kepribadian.
Menurut Munir Mursi, tujuan pendidikan Islam menjadi :
1.        Bahagia di dunia dan akhirat.
2.        Menghambakan diri kepada Allah.
3.        Memperkuat ikatan keislaman dan melayani kepentingan masyarakat Islam.
4.        Akhlak mulia.
Al-Aynayni (1980:153-217) menyatakan bahwa tujuan khusus pendidikan Islam ditetapkan berdasarkan keadaan tempat dengan mempertimbangkan keadaan geografi, ekonomi dan lain-lain yang berada di tempat itu. Tujuan khusus ini dapat dikhususkan para ahli di tempat itu. Selanjutnya ia membagi aspek-aspek pembinaan dalam pendidikan Islam, jadi bukan pembagian tujuan pendidikan menjadi tujuan-tujuan khusus.  Aspek–aspek pembinaan dalam pendidikan Islam menurutnya ialah sebagai berikut :
1.        Aspek Jasmani
2.        Aspek Akal
3.        Aspek Aqidah
4.        Aspek Akhlak
5.        Aspek Kejiwaan
6.        Aspek Keindahan
7.        Aspek Kebudayaan
Pembagian ini bertujuan baik, sayangnya kategori yang digunakan ganda juga. Aspek (1), (2), dan (5) berada di dalam kategori potensi manusia, sementara aspek (3) dan (4) berkategori sifat atau sikap, sedangkan aspek (6) dan (7) kelihatannya tumpang tindih (bukan kah keindahan termasuk bagian dari kebudayaan?).
Sampai disini kita sebenarnya belum puas tentang perumusan tujuan khusus pendidikan Islam itu. Pendapat para pakar itu kelihatannya tidak banyak menolong kita untuk merumuskan tujuan-tujuan pendidikan kita di tempat kita. Kita menginginkan rumusan tujuan pendidikan yang khusus, tidak tumpang tindih, dan menggunakan satu kategori yang tegas. Kriteria ini amat penting. Kriteria itulah kelak yang akan mengarahkan kurikulum pendidikan kita. Bila tumpang tindih dan atau kategorinya ganda, maka perencanaan pendidikan akan amat sulit, kebingungan akan muncul dalam pelaksanaannya. Mungkin kita dapat memperoleh acuan dalam membuat rumusan tujuan pendidikan yang demikian?
Tatkala membicarakan ciri muslim sempurna kita telah sampai pada kesimpulan bahwa muslim sempurna menurut Islam ialah muslim yang :
1.        Jasmaninya sehat serta kuat,
2.        Akalnya cerdas serta pandai,
3.        Hatinya takwa kepada Allah.
 
BAB III
PENUTUP

A.      KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas, maka dapat penulis simpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam pada intinya adalah: terwujudnya manusia sebagai hamba Allah swt. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah swt. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah swt.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Tafsir, 2001, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Dr.Zakiah Daradjat, dkk., 2001, Metodologi Pengajaran Islam, Jakarta: Bumi Aksara
M. Arifin, 1996, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara
Ramayulis, 2011, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia

Selasa, 26 Juni 2012

TAFSIR SURAT AN-NASHR


A.    Mukaddimah
Surat An-Nashr merupakan salah satu surah Madaniyyah dan disepakati sebagai surah yang terakhir diturunkan. Namanya yang populer pada masa lampau adalah surah Idza Ja’a Nashrullah Wa Fath sesuai dengan bunyi ayatnya yang pertama. Dalam berbagai Mushhaf Al-Quran dan berbagai kitab tafsir, kumpulan ayat-ayat ini dinamai surah An-Nashr. Sahabat Nabi menamainya surah At-Taudi’ yakni perpisahan karena terdapat isyarat dari ayat-ayatnya yang mengandung kesan tentang dekatnya ajal Rasulullah saw.
Tema utamanya adalah berita gembira tentang kemenangan yang akan diraih Rasul saw. dan berbondongnya masyarakat memeluk agama Islam; di sisi lain hal ini mengisyaratkan selesainya tugas Rasul saw. dan dengan demikian surah ini menginformasikan dekatnya ajal Rasul saw. Ibn’ Abbas menyatakan bahwa Allah melalui surah ini berfirman: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan dan itu adalah tanda dekatnya ajalmu – maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan beristighfarlah” (HR. Bukhari).

B.    Asbab an-Nuzul dan Munasabah Surat
Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika Rasulullah saw, memasuki kota Mekkah pada waktu Fat-hu Makkah, Khalid bin al-Walid diperintahkan memasuki Mekkah dari jurusan dataran rendah untuk menggempur pasukan Quraisy (yang menyerangnya) serta merampas senjatanya setelah memperoleh kemenangan. Maka berbondong-bondonglah kaum Quraisy masuk Islam. Ayat ini (QS. 110 an-Nashr:1-3) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai perintah untuk memuji syukur dengan memahasucikan Allah atas kemenangan yang telah diraih dan meminta ampunan atas segala kesalahan yang telah dilakukan.
Ada yang menyatakan bahwa surah ini turun sekembalinya Rasul saw. dari perang Khaibar yakni terjadi pada tahun ke-8 H. Riwayat lain menyatakan bahwa ia turun sekitar dua tahun sebelum Nabi saw. wafat. Ada lagi yang menyatakan ia turun setelah pembukaan kota Mekkah. Bahkan sahabat Nabi saw., Ibn’ Umar ra menyatakan bahwa Nabi saw. wafat setelah sekitar tiga bulan dari turunnya ayat ini. Atas dasar perbedaan-perbedaan itu, maka sulit ditentukan pada urutan keberapa surah ini dari segi masa turunnya. Sahabat Nabi saw., Jabir Ibn’ Abdillah ra. berpendapat bahwa surah ini merupakan surah yang ke-103 yang diterima oleh Rasul saw., sedang sahabat Nabi saw, Ibn’ Abbas ra. berpendapat bahwa ini adalah surah yang terakhir diterima Nabi saw. Tidak ada lagi surah sesudahnya – walau masih ada ayat yang turun sesudahnya dan yang merupakan bagian dari surah-surah yang turun sebelumnya. Jumlah ayat-ayatnya sebanyak 3 ayat menurut cara perhitungan semua ulama.
Adapun munasabah surat An-Nasr dengan surat sebelumnya yaitu pada surah sebelumnya (QS. Al-Kafirun), disebutkan tentang perbedaan agama yang dibawa oleh Rasulullah dengan agama pegangan kaum kafir.
Kemudian, di dalam surah ini, Allah menjelaskan bahwa agama mereka akan punah dan surut, sedang agama yang dibawa Nabi Muhammad pasti akan membawa kemenangan dan menjadi agama yang banyak diikuti oleh penduduk dunia.
Hubungan surah An-Nahsr dengan surat setelahnya (QS. Al-Lahab), bahwa surat An-Nashr  menerangkan kemenangan yang diperoleh Nabi Muhammad saw dan pengikut-pengikutnya, sedang surat Al-Lahab menerangkan tentang kebinasaan dan siksaan yang diderita oleh Abu Lahab dan isterinya sebagai orang-orang yang menentang Nabi.

C.    Kajian Kosakata
An-Nashr : 1-3

1)    Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,
2)    dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
3)    maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.

 نصرAn-Nashr) : pertolongan. Dikatakan, Nasarahu a’la ‘Aduwwihi wa Yansuruhu Nasran (Allah menolongnya dari musuh-musuhnya). Dikatakan pula, Nasaral-Gaisul-Arda (jika hujan menolong bumi ikut menumbuhkan tanamannya dan mengusir ketandusannya).
    Kata nahsr digunakan dalam arti kemenangan atau pertolongan dalam mengatasi lawan.
  الفثح(Al-Fath) : kemenangan.  Al-Fath diambi dari kata fataha yang artinya membuka.
أفواجا (Al-Afwaj) : mufrad-nya faujun, artinya jama’ah atau segolongan.
واستغفره (Wastagfirhu) : mintalah agar Allah memberi ampunan atas dosa-dosamu dan dosa-dosa kaum yang mengikutimu.
  ثوابا (Tawwaba) : Banyak menerima taubat hamba-hambanya. 
   
D.    Penafsiran Surat
Ayat 1:
Jika kamu melihat pertolongan Allah terhadap agama-Nya, dan di lain pihak kamu musyrik menjadi kaum yang hina, serta Allah telah membukakan jalan antara kamu dan kaummu, maka Allah akan memenangkanmu atas mereka kedudukanmu menjadi jaya dan perkataanmu di atas perkataan mereka.
Secara eksplisit, surat ini memuat bisyarah (kabar gembira) bagi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan kaum Muslimin. Syaikh ‘Abdur-Rahman as-Sa’di rahimahullah berkata,"Dalam surat ini terdapat bisyarah dan perintah kepada Rasul-Nya n pada saat kemunculannya. Kabar gembira ini berupa pertolongan Allah bagi Rasul-Nya dan peristiwa penaklukan kota Mekkah dan masuknya orang-orang ke agama Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan berbondong-bondong."    
Ayat 2:
Kemudian, kamu melihat umat manusia masuk ke dalam agamamu dan bernaung di bawah panji-panjimu secara berbondong-bondong – tidak secara individu seperti permulaanmu menyampaikan dakwah yang sangat berat.
Ayat 3:
Jika semuanya sudah nyata bagimu, maka sucikanlah dan agungkanlah nama Tuhanmu. Sebab, Tuhanmu tidak akan sekali-kali melalaikan kebenaran dan memenangkan kebathilan. Tuhanmu Maha Suci dan tidak akan melanggar janji kepadamu. Karenanya, Allah menjadikan perkataanmu berada di atas segalanya, dan perkataan orang-orang kafir berada di bawah. Allah telah menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu, sekalipun kaum kafir membencinya.
Dan hendaknya mensucikan Allah itu dengan memuji-Nya atas nikmat-nikmat yang telah dilimpahkan kepadamu. Bersyukurlah kepada-Nya atas egala kebaikan yang telah dilimpahkan kepadamu, dan pujilah Allah dengan sifat-sifat yang wajib bagi-Nya. Sesungguhnya Allah itu Maha Kuasa, tidak ada yang mengalahkan-Nya. Dan Allah Maha Bijaksana yang tidak akan menyia-nyiakan amal perbuatan yang baik.
Mintalah ampun kepadanya agar Allah mengampuni dirimu dan orang-orang yang mengikuti kamu atas kekhawatiran dan keresahan, kesusahan dan keputus-asaan yang mencekam mereka akibat dari “terlambatnya” pertolongan Allah.
Taubat dari perasaan khawatir ini tidak lain hanya dilakukan dengan menyempurnakan perasaan percaya atau yakin akan janji Allah, dan memantapkannya di dalam hati yang biasanya terpengaruh oleh perasaan-perasaan berat dan menyusahkan. Memang masalah ini sangat berat dirasakan manusia. Tetapi Allah telah mengetahui jiwa Rasul yang kuat melakukannya karena beliau telah mencapai jenjang kesempurnaan. Karenanya, Allah memerintahkan agar berlaku demikian. Begitu pula mental para sahabat yang sempurna, dan mental tabi’in yang berada di bawah Rasulullah dalam hal kekuatan dan kesempurnaannya. Semoga Allah menerima amal baik mereka.
Sesungguhnya Allah SWT. banyak menerima taubat hamba-hamba-Nya. Allah akan mencoba dan mendidik hamba-hamba-Nya dengan berbagai ujian. Jika ternyata hamba itu masih lemah, maka Allah membangkitkannya dengan perintah minta kekuatan kepada-Nya. Setelah itu, Allah akan memperkuat tekad mereka melalui janji-Nya yang baik. Demikianlah seterusnya, hingga manusia mencapai jenjang kesempurnaan.

E.    Hikmah Tarbiyah
1.    Banyaknya anugerah Allah yang dikaruniakan kepada umat Islam.
2.     Kewajiban bersyukur manakala kenikmatan tercurahkan. Di antaranya dengan sujud syukur.
3.    Kewajiban untuk selalu beristighfar setiap saat.
4.    Surat ini sebagai tanda semakin dekat wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

DAFTAR PUSTAKA
Tafsir Ibnu Katsir, 2000, Jakarta: Gema Insani
KH Q Shaleh., dkk, Asbabun Nuzul, 2009, Bandung: CV Penerbit Diponegoro
Ahmad Mustafa Almaraghy, Tafsir Almaraghy, 1993, Semarang: Toha Putra
Tim Tashih Departement Agama, Al-Quran dan Tafsir, 1995, Yogyakarta: UII
M Quraish Shihab, Tafsir Almisbah, 2002, Jakarta: Lentera Hati
Syaikh Abdurrahman As Sa'di, Taisir Karimirrahman, 2005, Solo: Pustaka At Tibyan

PLATO

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Filsafat  adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh tentang hakikat kebenaran sesuatu. Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu Philos dan Sophia yang berarti cinta kebijaksanaan atau belajar.
Salah satu pelopor dan gembong filsafat barat adalah Plato seorang murid dari ilmuan dan Filosof yang terkemuka yaitu Socrates dan mencetuskan seorang  ilmuan serta Filosof yang terkenal bahkan diakui keilmuannya.
Plato adalah seorang pemikir yang lebih sistematis dibandingkan Socrates. Namun karya-karya yang dituangkannya, khususnya dialog-dialognya dimasa dini dapat dikatakan merupakan penerusan dan penggarapan terhadap pemikiran-pemikiran Socrates.
Pemikiran-pemikiran Plato seperti halnya sang guru yang dikagumi olehnya karena memiliki budi pekerti yang luhur menjadikan para kaum Sofis geram dan dendam terhadap ajaran Socrates sehingga menyebabkan ancaman kepada penerus ajaran Socrates khususnya Plato. Oleh karena itu Plato mengembara ke berbagai negara.

Rumusan Masalah
1.    Siapakah Ilmuan Yunani yang bernama Plato ?
2.    Seperti apa pemikiran Plato sebagai pelopor idealism ?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    RIWAYAT HIDUP PLATO

Plato dilahirkan sekitar tahun 427 SM. Dia hidup antara kira-kira 428-347 SM. Plato lahir di Athena dari kalangan keluarga aristocrat. Ayahnya yaitu Arsito dikenal sebagai keturunan raja-raja Atena. Perictone, ibunya masih ada hubungan keluarga dengan Solon, seorang ahli hukum dari abad ke-enam sebelum masehi. Ketika Plato masih kecil, bapaknya meninggal dunia, dan ibunya menikah dengan Pirilampes, seorang yang ada hubungan dekat dengan Perikles. Berbeda dengan Sokrates yang dilahirkan dari keluarga pemahat, Plato termasuk di antara keluarga yang ada hubungannya dengan “Tiga Puluh Tiran” yang berkuasa di Atena.
Di masa remaja dia berkenalan dengan filosof  terkenal yaitu Socrates yang jadi guru sekaligus sahabatnya, penyebabnya adalah Plato yang mempunyai ambisi Politik menjadikan ketidakpuasan terhadap pimpinan politik Atena. Setelah Plato mengenal Sokrates, dia pun menjadi murid Sokrates yang menyetujui garis dasar pemikiran-pemikiran filsafat Sokrates dan gaya dialektisnya dalam perdebatan, yaitu dalam mengejar kebenaran melalui tanya-jawab dan melalui tambahan pernyataan-pernyataan.
Plato menyaksikan langsung kematian Sokrates yang meminum racun. Rupa-rupanya karena untuk keselamatan dirinya, Plato untuk sementara meninggalkan Atena dan mengembara ke berbagai Negara yaitu Italia, Sisilia, Mesir dan negara lainnya selama 10-12 tahun lamanya.
Pada tahun 387 SM, Plato mendirikan Akademi di Atena. Suatu institut yang  bisa dianggap sebagai universitas pertama di Eropa yang berjalan lebih dari 900 tahun. Akademi itu dilengkapi dengan perangkat pelajaran dan kurikulum yang komprehensif, yang merangkumi subjek-subjek seperti astronomi, biologi, matematika, teori politik, dan filsafat. Diantara siswanya yang paling terkemuka adalah Aristoteles.
Pada masa tuanya, antara tahun-tahun 367 dan 361/362 SM, Plato berada Sisilia. Disana dia mengajar Dionisius II, yang terkenal sebagai raja tirani muda. Dia memiliki harapan untuk merealisasikan gagasan tentang Negara Ideal-nya disana. Namun harapannya ternyata tidak terwujud. Akhirnya Plato meninggal dunia di Atena pada usia kira-kira 81 tahun.
Kepengarangan Plato yang dimulai disekitar tahun 380 SM berlangsung hingga tiba ajalnya. Seluruh tulisan Plato yang dipublikasikan tersimpan. Plato menulis tak kurang dari 36 buku. Tulisan-tulisan Plato dapat dibagi kedalam 3 kelompok yaitu:
1.    Tulisan-tulisan di masa muda
a.    Protagoras    : suatu pembelaan terhadap tesis bahwa kebaikan adalah pengetahuan dan dapat dipikirkan.
b.    Apologi    : pembelaan kepada Sokrates terhadap tuduhan ateisme dan perusakan moral pemuda Atena.
c.    Eutifro        : masalah sifat kesucian.
d.    Negara/Republik: sebuah diskusi tentang keadilan.
2.    Tulisan-tulisan sesudah setengah tua
a.    Gorgias    : persoalan mengenai beberapa masalah etika.
b.    Meno        : diskusi tentang sifat pengetahuan.
c.    Faedo        : panorama kematian Sokrates, diskusi tentang teori mengenai masalah bentuk, sifat nyawa, dan masalah ketidakmatian.
d.    Simposium    : berisi berbagai uraian Plato tentang keindahan dan tentang cinta.
e.    Politeia    : bukunya tentang Negara.
3.    Pada hari tua  
a.    Teaitetus    : suatu penolakan bahwa pengetahuan itu identis dengan citarasa.
b.    Parmenides    : penilaian kritis terhadap teori bentuk.
c.    Kaum Sofis    : kelanjutan diskusi teori tentang idea atau bentuk.
d.    Timaius    : pendapat Plato tentang ilmu pengetahuan alam dan tentang kosmologi.
e.    Nomoi        : hukum yang berisi analisis praktis tentang masalah-masalah politik dan sosial. (Arus Filsafat:2008:50-51)
dan karya-karya yang lainya. Ajaran-ajaran yang terpenting dari pemikiran Plato adalah tentang Negara Ideal, teorinya tentang ide dan bentuk, tentang ketidakmatian, dan teori tentang pengetahuan.

B.    PEMIKIRAN PLATO
1.    Plato Tentang Utopi
Pada masa Plato, keadaan Atena lebih kurang mirip seperti Inggris pada tahun 1800-an. Di kedua negeri  itu ada aristokrasi yang ekonomis berkemampuan cukup dan terpandang. Plato membahas tentang masalah keadilan dan maka mempermasalahkan “apa yang dimaksudkan dengan Negara sejati“ dan “apa itu manusia” dalam karya terbesarnya tentang republik.
Menurut  Plato, negara ideal merangkumi dan tersusun oleh tiga kelas. Struktur ekonomi negara harus dikelola oleh kelas kaum pedagang, keamanan yang memang diperlukan harus ditangani oleh kelas militer, dan kepemimpinan politik harus dipegang oleh raja-raja filsafat dengan sistem pendidikan yang ideal ala Plato, yang pertama-tama dibina adalah melahirkan raja-raja filsafat.
2.    Plato Tentang Etika
Teori  Plato tentang etika terletak pada asumsi bahwa kebaikan adalah pengetahuan yang dapat dipikirkan yang bisa dimengerti sesuai dengan teorinya yaitu bentuk. Bentuk utama bagi Plato adalah bentuk kebaikan. Tahu tentang kebaikan adalah perbuatan yang baik. Dan menurut Plato, orang yang bermoral adalah orang yang benar-benar bahagia.
Plato pun memperhatikan moral generasi muda bahkan sejak dilahirkan dan dibesarkan oleh ibunya. Plato melarang para ibu menceritakan karya Homerus dan Hesiodus yang didalamnya menceritakan dan menggambarkan dewa-dewa (Tuhan), karena Plato menganggap bahwa menceritakan kejelekan dewa merupakan perilaku yang  amoral. Orang-orang muda harus belajar, bahwa sesuatu yang jelek tidak berasal dari dewa-dewa, karena Tuhan hanya memberikan restu kepada kebaikan agar para pemuda semangat berjuang dan berani mengorbankan jiwanya.
Menurut Plato hak milik pribadi tidak ada. Istri dan anak milik bersama, wanita-wanita tanpa terkecuali dan tidak ada orang yang memilik istri untuk dirinya sendiri. Anak sejak lahir diambil oleh Negara. Maka baik anak maupun orang tuanya tidak saling mengenal. Maka para pemuda dilarang menyakiti orang yang lebih tua karena mungkin itu adalah orang tuanya.

3.    Ajaran Plato tentang Ketidakmatian
Yang dimaksudkan plato tentang ketidakmatian adalah sifat langgeng nyawa. Sesudah nyawa meninggalkan badan, nyawa tidak akan mengenal kematian lagi. Kematian berarti terpisahnya nyawa dari nyawa. Menurut Plato hal ini menguak teori dualismen, yaitu ketidaksatuan antara kenyataan dan gambaran semu, antara dunia ide dan dunia materi, antara nalar dan citarasa, antara nyawa dan badan.
Manusia dapat dibandingkan –demikian katanya— dengan orang-orang tahanan yang sejak lahirnya terkurung dan terbelenggu di dalam gua. Di belakang mereka ada api menyala sementara mereka hanya dapat menghadap ke dinding gua. Beberapa orang budak belian berjalan-jalan di depan api itu sambil memikul bermacam-macam benda. Hal itu mengakibatkan bermacam-macam bayangan yang jatuh pada dinding gua. Karena orang-orang tahanan itu tidak dapat melihat ke belakang, mereka hanya menyaksikan bayangan, dan bayangan itu disangka mereka sebagai realitas yang sebenarnya dan tidak ada lagi realitas yang lain. Namun, setelah beberapa waktu seorang tahanan dilepaskan, ia melihat di belakang mereka, yaitu di mulut gua, ada api yang menyala. Ia mulai memperkirakan bahwa bayangan-bayangan yang disaksikan mereka tadi bukanlah realitas yang sebenarnya. Lalu ia diantar ke luar gua, dan ia melihat matahari yang menyilaukan matanya. Mula-mula ia berpikir bahwa ia sudah meninggalkan realitas. Akan tetapi berangsur-angsur ia pun menginsafi bahwa justru itulah realitas yang sebenarnya, dan ia menyadari bahwa dulu ia belum pernah menyaksikannya lalu ia kembali ke dalam gua, ya, ke tempat kawan-kawannya yang masih diikat di situ. Lalu bercerita kepada teman-temannya bahwa yang dilihat mereka pada dinding gua itu bukanlah realitas yang sebenarnya, melainkan hanyalah bayangan. Namun kawan-kawannya itu tidak mempercayai perkataannya, dan seandainya mereka tidak terbelenggu mereka pasti akan membunuh siapa saja yang mencoba melepaskan mereka dari belenggunya. Kalimat terakhir ini mengiaskan kematian Socrates.
Mitos ini menjelaskan bahwa gua adalah dunia yang dapat ditangkap oleh indera penglihatan manusia secara langsung. Kebanyakan orang dapat diumpamakan sebagai orang yang terbelenggu dalam tahanan yang hanya mampu melihat bayangan yang memantul dari api. Mereka menerima pengalaman spontan begitu saja. Namun, ada beberapa orang yang mampu dan mulai memperkirakan bahwa realitas penglihatan inderawi hanyalah bayangan mereka yaitu para filosof. Hal ini diawali karena rasa takjub terhadap yang ada di dunia hingga berangsur-angsur menemukan idea “hal yang baik” (matahari) sebagai realitas tertinggi. Untuk mencapai kebenaran yang sebenarnya manusia harus mampu melepaskan diri dan melawan kesakitan dari pengaruh indera yang menyesatkan.
Dengan demikian, jelas bahwa kebenaran umum itu ada, bukan dibuat-buat dan sudah ada di alam idea. Plato memperkuat argumentasi Socrates dalam menghadapi kaum Sofis dan menurut Plato selain kebenaran umum ada pula kebenaran yang khusus, yaitu konkretisasi idea di alam ini. “Kucing” itu adalah alam idea yang umum (kebenaran umum) sedangkan “kucing hitam di rumah saya” adalah kucing yang khusus artinya ini kebenaran (idea) khusus.


BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
    Pengaruh Plato di dalam sejarah filsafat tidak kecil khususnya di Yunani, dan pemikiran Plato lebih menjadi penerus pemikiran Socrates melalui system dialektika kepada orang-orang lain. Namun karya-karya Plato banyak yang ditulis dan diabadikan sehingga ajarannya tidak lenyap begitu saja. Karena Plato memiliki akademi atau sekolah yang berjalan terus sampai pada tahun 529 SM.
Dampak pemikiran Platonisme selanjutnya ada peran yang berarti terhadap perkembangan theologi Katolik. Theologi Islam dampaknya sangat berpengaruh pada abad pertengahan. Usaha menghidupkan kembali Platonisme ada terus menerus hingga masa sekarang, namun tidak bergema luas. 


DAFTAR PUSTAKA

Soegiri DS,2008,Arus Filsafat,Bandung:Ultimus
Tafsir Ahmad,2004,Filsafat Umum,Bandung:PT Remaja Rosedakarya